Part 2
Madu Tak Semanis Gula
Seruni duduk termenung sendirian di taman belakang rumahnya. Vio sedang terlelap di kamar, biasanya seruni ikut menemani tidur siang bersama. Tapi saat ini hatinya sedang gundah gulana. Ingin berbagi keluh kesah tapi kepada siapa? Seruni tak ingin berbagi cerita dengan ibunya karena tak ingin membuat sedih wanita yang telah melahirkan,mengurusnya sejak kecil sampai berurai air mata saat melepasnya menikah dengan heru. Yah seruni adalah anak gadis satu-satunya. Tak tega seruni membuat ibunya khawatir. Kepada ibu mertuanya pun tak mungkin karena heru adalah anak laki2 kesayangannya apalagi setelah ayah heru wafat.
Sambil menghembuskan nafas panjang seruni bangkit dan menuju kamar kecil untuk berwudhu. Ia memutuskan untuk berbagi dengan Allah SWT yang maha adil. Setelah mengucap salam dan berzikir, seruni menumpahkan segala keluh kesahnya. Walau bukan seorang ahli agama seperti ustazah di lingkungan rumahnya, seruni cukup tau bahwa poligami tidak dilarang dlm agamanya. Ia pun paham bahwa dirinya bukan wanita yang sempurna untuk suaminya. Setelah melahirkan, ada waktu-waktu dimana ia merasa tidak bisa melayani suaminya dengan baik. Hampir semua waktunya tertuju untuk mengurus Vio anak pertamanya. Seruni bahkan memilih untuk mengundurkan diri dari pekerjaan karena tak ingin Vio diasuh baby sitter. Semua diurusnya sendiri sehingga tanpa sadar melalaikan sang suami.
Tapi jauh di dalam lubuk hatinya ada perasaan cemburu tidak ingin membagi kasih sayang suaminya dengan wanita lain. Bahkan saat membayangkan suaminya harus membagi waktu dengan wanita lain hatinya merasa sakit.
" Astagfirullahaladzim...Ya Allah, maafkan hambamu yang tidak bisa mengerti. Maafkan hamba begitu mencintai makhlukmu sampai menumpahkan air mata kecemburuan ini. "
" Ya Allah yang maha merubah segalanya. Hamba percaya dengan segala rencanamu,mungkinkah memang hamba harus ikhlas berbagi suami dengan wanita lain? Walaupun di mulut berkata ikhlas dan merestui tapi hati ini tidak bisa berbohong Ya Allah, rasanya sakit sekali,kecewa dan sedih. Apakah sudah tak ada laki2 lain untuk wanita itu Ya Allah? Apakah harus suami hamba? "
Air mata mengalir di kedua pipi seruni membasahi mukenahnya. Bahunya bergetar menahan isak, kedua tangannya mengatup menahan mulutnya agar berhenti bicara. Seruni tak ingin lagi mempertanyakan rencana Allah SWT pada dirinya, tak ingin meragukan apa yang akan terjadi, berusaha ihklas baik di mulut maupun di hati walau sulit. Seruni tahu ridho itu bukan dalam bentuk ucapan tapi harus dari hati, begitu yang pernah ia dengar dalam salah satu ceramah di pengajian.
Sudah beberapa hari berlalu sejak seruni membaca sms dari bang edi di hp suaminya. Sejak saat itu pula seruni memperhatikan tingkah laku suaminya agak berubah. Gelisah dan seperti ada yang disembunyikan. Beberapa kali sang suami melihat seruni sambil melamun, tapi tiap kali ditanya selalu dijawab tidak ada apa-apa. Bahkan suaminya menggodanya dengan berkata seruni tambah cantik. Seruni hanya menjawab dengan senyuman tapi dalam hatinya pedih menangis. Apakah ini cara suaminya merayu seruni agar setuju dengan niatnya menikah lagi? Ah,entahlah...
Seruni telah berpikir dan memantapkan hatinya. Ia telah menyiapkan jawaban apabila tiba waktunya sang suami mengutarakan maksudnya menikah lagi. Keputusannya diambil setelah melihat Vio terlelap tidur, membayangkan masa depan Vio tanpa ayah dan membayangkan Vio dengan wanita lain yang disebut "ibu" dan bundanya. Belum lagi jika Vio punya saudara tiri, apa kata teman-temannya nanti, apa Vio tidak akan canggung dan malu dibilang macam-macam. Ahh banyak sekali yang harus dipikirkan dan dikorbankan.
Keputusan telah dibuat, tinggal menunggu ketukan pintu dari suaminya.
Bersambung part 3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar