Part 3 - the end
Madu Tak Semanis Gula
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam" tersentak kaget seruni menjawab salam suaminya. Ternyata ia melamun sedari tadi dan tidak mendengar deru motor suaminya yang datang. Jam berapa ini? Kok suamiku sudah pulang, seruni berkata dalam hati.
Seruni menyambut di depan pintu sembari mencium tangan suaminya. Ia tidak memperhatikan sedikit risau di wajah sang suami karena langsung bergegas ke dapur membuat secangkir teh lemon untuk suaminya.
" Vio sudah tidur bun? " tanya heru setelah berganti pakaian dan duduk di sofa depan tv.
" Sudah, baru saja belum lama. Tumben jam segini sudah pulang? "
" Iya,alhamdulillah kerjaan sudah beres jadi bisa cepat pulang. Kangen sama Vio eh ternyata sudah tidur. "
" iya kecapean mungkin tadi Vio mulai belajar duduk dan merangkak. "
" eemm...bun. Ada yang ingin kubicarakan denganmu. "
DEG!! Jantung seruni terasa berdetak kencang. Postur tubuhnya berubah kaku dan tidak bisa duduk santai. Ia merasa aliran darahnya mengalir cepat memompa darah di jantungnya.
" Heemm... mau bicara soal apa yah? " tanya seruni.
" soal kita bun. Aku, kamu dan Vio juga. " jawab heru.
Astagfirullah, sudah tiba saatnya ternyata, dalam hati seruni berkata. Tangannya mengepal keras menahan perasaan tak menentu yang berkecamuk di batinnya.
" aku ingin bicarakan serius denganmu karena ini menyangkut masa depan kita. Aku harap kamu jangan kaget atau emosi. Coba dipikirkan baik-baik dengan kepala dingin. "
Setelah diam sejenak dan melihat seruni tidak bereaksi, heru melanjutkan " Begini bun, beberapa waktu lalu bang edi emmm... dia menghubungiku. Emm...dia menawarkan sesuatu padaku. Aku sih langsung setuju bun dengan tawarannya. "
DEG!!! Jantung seruni serasa mau copot mendengar kata-kata suaminya yang langsung setuju dengan wanita yang ditawarkan bang edi.
" Apalagi ternyata sangat menarik bun. " lanjut heru tanpa sadar wajah seruni mulai memerah.
APA??! Sangat menarik??! Jadi wanita itu pasti sangat cantik melebihi diriku karena mas heru tertarik, batin seruni.
" Sayang kalau dilepas atau dilewatkan bun tawarannya. Istrinya bang edi, mba heni itu sudah mencarikan dengan susah payah. Dia pintar cari yang bagus dan mantap. " lanjut heru.
Jadi benar si heni itu yang mencarikan wanita lain untuk suaminya persis seperti kata-kata bang edi dulu di pernikahannya, heni berkata dalam hati. Mata seruni mulai panas menahan air mata. Apa katanya barusan, mantap?!!
" Tapi kubilang harus kubicarakan dulu denganmu bun. Apa kira-kira kamu setuju atau tid... " kata-kata heru terhenti di tengah jalan karena tiba-tiba seruni meledak dalam tangis.
" Kenapa? Kenapa harus bicarakan lagi denganku? Mas heru butuh ijin dariku hah? Tadi mas bilang langsung setuju, langsung tertarik, apalah lagi tadi kata mas. " tanpa sadar seruni berdiri dan berteriak pada suaminya. Air mata mengalir deras di kedua pipinya. Bahunya bergetar terisak, merasa tak percaya suaminya bisa tertarik pada wanita lain.
Saat itu heru hanya bisa melongo karena kaget. Bibirnya terbuka dan tak bisa berkata apa-apa. Seruni, istri yang dikenalnya pendiam, tak pernah marah-marah apalagi berteriak tiba-tiba seperti kerasukan. Menangis terisak,berteriak dan memarahinya.
" Memang apa kekuranganku mas? Apa kurang bisa menjadi istri yang baik untuk mas? Apa masakanku tidak enak, apa lagi? Selama ini aku kerjakan semua tugas rumah, aku mengurus Vio dengan baik. Apa itu belum cukup untuk mas? " tanya seruni.
" bukan begitu bun. Selama ini kamu sudah jadi istri dan ibu yang baik kok tapi... " lagi-lagi ucapan heru dipotong oleh seruni.
" Lalu apa alasannya? Kenapa mas tidak cukup dengan aku saja? Kenapa mas harus mencari yang lain? " tuntut seruni.
" Lho...lho bu..bukan begitu bun. Aku ga mencari kok, ini bang edi yang menawarkan... " jawab heru tergagap.
" Jadi memang kenapa kalau bang edi yang menawarkan? Tidak bisa ditolak? Kalau nanti nanti ditawrkan lagi juga tidak menolak? Memang mau punya berapa madu kamu mas? " tanya seruni
" Lho kamu sudah tahu soal madu itu bun? Yaahh...pastinya ga cukup satu lah bun madunya. Kalau mau maju harus punya banyak kan, agar berkembang..." jelas heru dengan wajah polos.
" HAAAHHH...ga cukup satu??? Harus banyak??? Kamu sudah ga waras ya maaaasss???!!! " seruni merasa pusing dan akhirnya terjatuh duduk karena lemas.
" lho lho bun kamu kenapa kok semaput. Duuhh...maaf ya bun aku memang ga bilang dari awal soal ini. Tapi aku capek dan lelah bun kerja di perusahaan yang tidak menghargai karyawannya. Berangkat pagi-pagi pulang larut malam, ga ada waktu untuk kamu dan Vio. "
Seruni memejamkan mata dan memijat kedua pelipisnya tanpa sadar apa yang dibicarakan heru. Ia hanya bisa terdiam karena lelah berteriak dan menangis.
" Maka waktu bang edi menawarkan bisnis madu, aku pikir ini waktunya. Aku akan resign dari kantor dan usaha madu bun. Bukan kecil-kecilan bun tapi aku dan bang edi main di ekspor impor madu bun. Kita join modal untuk... " penjelasan heru terhenti karena tiba-tiba seruni duduk tegak dan berkata
" apa?? Maksud mas soal madu itu bisnis madu asli? Madu yang buat diminum dimakan? Bukan madu maduan alias istri baru?? " tanya seruni.
" hah?? Ya ampuunn bun. Jadi tadi kamu marah-marah itu karena salah paham soal madu? hahaha...pantas kamu yang biasanya pendiam tiba-tiba marah-marah lalu semaput. Iya maksudku madu asli untuk diminum bun. Heni istri bang edi itu punya kenalan peternak madu di daerah asalnya. Madu muda jadi rasanya lebih enak, segar dan mantab kata bang edi. " jelas heru.
" oohh... maaf ya yah...aku sudah salah paham. Habis aku ga rela kalau kamu nikah lagi. Aku masih muda begini kok uda cari yang lain. " seruni berkata sambil tersenyum malu.
" hahaha..ga lah bun. Aku cukup sama kamu aja kok. Kamu uda jadi istri yang baik selama ini. " kata heru sambil memeluk seruni.
" eh tadi kata kamu masih muda begini sudah cari yang lain. Jadi kalau sudah tua nanti boleh yaaa...heheh..aduuuhh..." heru kesakitan karena dicubit seruni.
♥ The €nd ♥
Tidak ada komentar:
Posting Komentar